Jumat, 22 Oktober 2010

sore yang menyudutkan hati

SORE YANG MENYUDUTKAN HATI

Suatu sore aku bersantai disebuah tempat nongkrong, yach bisa dibilang sebuah café lah. Café itu di tata dengan campuran artistic modern dan sedikit gaya klasik ala barat yang menampilkan kesan wah namun tetap enak untuk bersantai. Saat sedang asyik duduk dan memeperhatikan orang-orang (salah satu hobi ku adalah mengamati aktivitas manusia yang beragam) dari jauh ku lihat seorang anak kecil dengan bajunya yang lusuh dan rada kumal berjalan menuju café itu. Ia tidak masuk hanya memandang ke dalam dari sisi luar jalan masuk dengan jarak yang kira-kira 5 samapi 10 meter lah. Anak itu berdiri mematung sambil memegangi perutnya dan secara samar mengatakan bahwa ia kelaparan. Iba dan rasa kasihan ku muncul melihatnya, ku tahu uang ku tak cukup untuk mentraktirnya minum apalagi makan karena aku hanya bawa uang sedikit, namun ku putuskan untuk menghampirinya dengan pikiran mungkin aku bias memberinya uang untuk membeli sepotong roti dan es ditempat lain yang lebih murah. Namun aku terkejut saat aku beranjak dan berjalan beberapa langkah ku dengar dan lihat ia di bentak oleh seseorang entah pegawai atau pemilik tempat itu aku tag tahu. Anak itu diusir. Pikiran ku mengatakan dimanakah rasa social orang tadi, bagaimana bila ia berada diposisi anak itu, yach tapi sudahlah anak itu sudah menjauh untuk ku hampiri. Terenyuh hati ku melihat kenyataan barusan.
Sore di hari yang lain aku kembali bersantai namun bukan ditempat yang waktu itu, kali ini ditempat yang lain yang lebih murah karena uang ku juga semakin menipis. Bagaimana tidak menipis ini sudah akhir bulan ditambah lagi banyak bahan-bahan materi ujian semester dari dosen yang mesti aku fotokopi jadi ku lebih memilih bersantai ditempat yang murah yang pentingkan masih bisa bersantai. Tempat ini hanya sebuah warung kecil di pinggir jalan. Lama juga aku bersantai ada sekitar satu jam lah. Dari arah yang tidak terlalu jauh ku lihat pengemis ibu-ibu tua datang. Yach, ku kira pengemis itu akan mengalami nasib yang sama dengan anak kecil yang waktu itu, namun aku terkejut dengan apa yang ku lihat. Pemilik warung yang juga seorang ibu, mungkiin usianya sekitar 40 atau 50 tahun, mempersilakan pengemis itu untuk duduk. Pengemis itu diberi tempat agak dipojok. Ia diberi minuman dan makanan. Setelah pengemis itu merasa kenyang ia kemudian pamit dan mengucapkan terimakasihnya namun pemilik warung itu menyuruhnya menunggu ia selesai melayani pembeli, diluar dugaan pemilik warung itru merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar sepuluh ribuan dan memberikannya kepada pengemis itu dan berkata ini untuk beli susu si kecil bu katanya, karena ia melihat pengemis itu mengendong bayi mungil.
Sungguh sebuah ironi. Tempat yang mewah yang seharusnya mempunyai penghasilan yang besar tidak memberikan selain bentakan kepada anak kecil yang kelaparan padahal anak kecil itu tidak meminta makan mewah, ia hanya melihatdan berdiri mematung namun sang pemilik tak mau memberinya apa-apa, tak perlu banyak selembar lima ribuan ku kira cukup untuk sedikit mengobati rasa laparnya. Dan di sisi lain sebuah warung kecil yang pemilik dengan ikhlas memberi seorang pengemis ibu-ibu tua makan dan minum bahkan diberi uang juga padahal ia sama sekali tidak kenal dengan pengemis itu dan penghasilannya perhari pun tidaklah besar.
Ini lah kehidupan, saat sebuah ironi menampilkan si kaya dengan hati batunya dan si miskin dengan hati yang lembut. Ironi yang terkadang membuat kita tercengang.

Minggu, 25 April 2010

desentralisasi (sekedar pendapat dari orang kecil) part-2

Desentralisasi (politik, administratif dan fiskal) adalah penyerahan kekuasaan, kewenangan, sumber daya, keuangan dan tanggungjawab dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Desentralisasi juga berarti membawa negara lebih dekat pada rakyat Kedekatan ini bukan berarti karena ada kantor pemerintah yang dekat dengan rakyat, bukan pula karena pemimpin lokal dipilih oleh rakyat setempat. Dekat, di satu sisi, berarti pemerintah daerah mempunyai transparansi, akuntabilitas dan responsivitas dalam pengelolaan kebijakan dan anggaran daerah. Di sisi lain dekat juga berarti bahwa rakyat mempunyai akses politik terhadap penyelenggaraan pemerintahan atau akses partisipasi. Dengan kalimat lain, pemerintah daerah mempunyai “hak” jika berhadapan dengan pusat, sebaliknya ia mempunyai “tanggungjawab” mengurus barang-barang publik untuk dan kepada rakyat. Secara teoretis tujuan antara desentralisasi adalah menciptakan pemerintahan yang efektif-efisien, membangun demokrasi lokal dan menghargai keragaman lokal. Tujuan akhirnya adalah menciptakan kesejahteraan rakyat. Kesejahteraan rakyat itulah yang menjadi cita-cita besar membawa negara lebih dekat pada rakyat.
Seperti yang sudah dikatakan diawal bahwa dengan desentralisasi maka diharapkan bahwa adanya peningkatan kesejahteraan rakyat bukan hanya semata yang diukur melalui angka-angka pertumbuhan ekonomi tapi juga lebih kapada unsur-unsur sosial didalam masyarakat. Peningkatan ini juga turut bergantung pada pelayanan publik sehingga menjadi seperti sebuah rantai yang saling menyambung dan terkait.
Pelayanan publik sangat terkait dengan kualitas birokrasi yang ada. Struktur birokrasi juga turut memberikan andil dalam pemberian pelayanan kepada publik. Pemerintah atau birokrasi pada fitrahnya adalah pelayan publik dan aparatur negara, bukannya sebagai “pelayan” bagi kaum bourjuis. Desentralisasi diharapkan mampu menghapus wajah lama birokrasi pemerintah yang begitu buruk dimata masyarakat dan memberikan wajah baru yang lebih manis dan bersahabat terhadap masyarakat dari semua kalangan tanpa ada unsur diskriminasi terhadap penjalanan tugasnya.
Desentralisasi ini diharapkan dapat menciptakan birokrasi yang lebih fleksibel, efektif, inovatif, serta menumbuhkan motivasi kerja daripada yang tersentralisasi. Desentralisasi diatas kertas adalah sebuah sistem yang dibuat untuk mengatasi berbagai keluhan dan ketidakmampuan sentralisasi. Namun sekali lagi ditegaskan hanya diatas kertas, pada pembuktian dilapangan tidak ada hal yang jauh berubah dari pada masa era sentralsasi selain sruktur sekarang yang lebih mengkerut, lebih dinamis dan lebih mampu untuk menjangkau lapisan masyarakat kelas bawah. Hakikat desentralisasi sebagai pembaharuan kini menjadi kabur dan menjadi sebuah pertanyaan besar.
Permasalahan utama pelayanan publik pada dasarnya adalah berkaitan dengan peningkatan kualitas pelayanan itu sendiri. Pelayanan yang berkualitas sangat tergantung pada berbagai aspek, yaitu bagaimana pola penyelenggaraannya (tata laksana), dukungan sumber daya manusia, dan kelembagaan

desentralisasi (sekedar pendapat dari orang kecil) part-1

selama puluhan tahun negara kita menganut sistem sentralisasi atau terpusat dan seiring dengan runtuhnya rezim orde baru yang berkuasa maka sistem sentralisasi itu pun ikut runtuhnya dan digantikan oleh sistem baru yang diharapkan mampu untuk menjawab kelemahan-kelemahan yang ada dan terjadi pada masa sentralisasi. Sentralisasi berarti terpusat, semua kebijakan ataupun segala hal yang berkaitan dengan birokrasi-birokrasi wewenang sepenuhnya berada dalam tangan pemerintah pusat. Pemerintah pusat membuat berbagai kebijakan dengan menyeragamkan semua kondisi daerah entah itu daerah yang terpencil, daerah yang maju atau bahkan daerah yang nun jauh dipelosok. Pemerintah menganggap seakan-akan semua daerah berada dalam kondisi yang sama. Tidak jarang kebijakan yang dibuat tidak cocok dengan kondisi daerah-daerah tertentu. Sistem sentralisasi ini juga mengakibatkan terpusatnya pembangunan pada sebagian daerah sementara daerah lainnya seolah terpinggirkan.
Untuk menjawab semua permasalahan yang timbul dalam masa sentralisasi, maka desentralisasi muncul bak pahlawan yang menumpas kejahatan. Desentarlisasi dielu-elukan seperti sebuah sistem sempurna tanpa cacat. Pada awalnya desentralisasi membuat banyak perubahan dalam dinamika percaturan pemerintahan. Seiring dengan diberlakukannya sistem desentralisasi ini maka muncul juga berbagai macam istilah dan sistem lain yang merupakan rangkaian dari desentralisasi ini, seperti misalnya : otonomi daerah.
Pada masa desentarlisasi daerah kini tidak lagi tergantung [ada pemerintah pusat. Jika sebelumnya pada masa sentarlisasi daerah tidak memiliki wewenang atas dirinya maka pada masa desentarlisasi daerah telah mendapatkan kebebasan yang selama ini diidam-idamkannya. Daerah kini tidak lagi menjadi “boneka” pemerintah pusat. Semua hal ini bertujuan agar masyarakat dapat lebih merasakan pelayanan publik. Agar pelayanan publik yang selama ini telah dijalankan menjadi jauh lebih baik lagi. Esensi dari desentarlisasi yang salah satunya selain untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat adalah untuk menambah mutu pelayanan publik.
Esensi desentralisasi secara teoritis diatas kertas sangat memiliki peluang untuk terwujud. Namun mari kita sekitar kita apakah mutu pelayanan publik sudah jauh lebih baik atau masih tetap sama saja dengan era sentralisasi. Jika sudah membaik tentu dapat kita katakan dengan lantang bahwa negara yang kita cintai ini telah mampu menerapkan sistem tersebut dengan sempurna. Namun bila yang terjadi sebaliknya timbul suatu pertanyaan besar apa bedanya dengan sentralisasi jika keadaannya masih tetap saja sama, apa ada yang salah dalam sistem ini?atau mungkin memang negara kita masih belum mampu menerapkannya dengan baik.
saat kehampaan itu datang mengusik....setitik harapan menjadi seperti cahaya yang terang menerangi setiap sudut langkah kehidupan yang dijalani.... entah akan terwujud atau tidak tak menjadi persoalan yang begitu bearti......yang ada hanyalah usaha dan keinginan untuk menjadikannya nyata apakah akan berhasil atau tidak...
sebagai manusia yang mempunyai sebuah rasa dan karya dalam dirinya menjadi sebuah keharusan untuk tetap berusaha...
menjadi kewajaran apabila kita menginginkan semua yang kita mau terlaksana seperti keinginan, namun akan menjadi sebuah hal yang salah dan tidak wajar bila kita memaksakan bahwa hal itu harus terwujud, menjadi salah apabila kita tidak mau menerima hasil yang telah diberikan Allah pada kita karena kita tag pernah tahu ada rahasia apa dibalik keputusan Allah.

hikmah dari semua kejadian

apa yang sudah kita miliki dan kita rasakan hingga detik ini adalah buah dari apa yang telah kita lakukan...............tidak ada yang salah dengan semua yang mungkin tak sesuai dengan apa yang kita harapkan andaikan kita mau untuk merenung dan melihatnya dari sisi lain...........hanya saja terkadang kita terlalu angkuh untuk melakukannya..kita terlalu menginginkan semua hal harus sempurna dan berjalan seperti yang kita rencanakan padahal mungkin saja itu bukanlah yang terbaik untuk kita........
Allah tidak akan memberikan yang buruk untuk hambanya.....tapi Allah mengizinkan hal yang tidak sesuai harapan terjadi untuk membuat kita mengerti..untuk membuat kita paham dan untuk membuat kita menjadi seseorang yang jauh lebih baik dari sebelumnya.....